Malas bisnis di Indonesia?

0 Comments

Banyak pengusaha mengeluh, Indonesia sama sekali tidak kondusif untuk usaha (bisnis).

Yang pengusaha jadi enggan mengembangkan bisnisnya atau membangun bisnis baru. Yang berpotensi jadi pengusaha malah bikin usaha di luar negeri atau kerja di luar negeri.

Akibatnya, jumlah pengangguran yang saat ini lebih dari 40 juta orang itu tidak terserap.

Segala bisnis dipersulit. Tidak ada keamanan berbisnis di Indonesia. Contoh:

1) resiko kerusuhan seperti Mei 1998; barang dagangan dijarah habis, rumah dibakar, bahkan jiwa melayang, dan raga dinodai.

2) diperas oleh “preman berkerah” tanpa sebab yang jelas. “Denda” terpaksa dibayar mahal. Mending kalau “denda”nya dipakai untuk membangun negara…

3) diperas oleh preman (betulan preman). Polisi malas menindak preman-preman karena gak duitan. Mendingan memberhentikan pengendara sepeda motor, bisa dapat 5000.

4) buruh dipaksa ikut demo, walaupun mereka sebenarnya tidak mau demo. Pabrik dilempari batu bila buruh dari pabrik tersebut tidak ikut demo. Terpaksa pabrik “mengutus” beberapa buruhnya untuk ikut demo.

5) jalanan pengangkutan tiba-tiba tertutup lumpur. Seperti di Sidoardjo.

6) hutang bisa tiba-tiba menjadi 400% dari hutang semula karena depresiasi rupiah.

7) peraturan pemerintah yang tidak pro-pengusaha. Pemimpin politik tidak berani pro-pengusaha karena takut partainya tidak terpilih pada pemilu mendatang. Pedahal, sebagian peraturan 100% dijamin membuat sebagian usaha bangkrut (maaf tidak mendetail).

Maka tidak aneh kalau yang punya modal memilih untuk:
– uangnya disimpan di bank daripada membangun usaha baru
– tinggal di luar negeri
– bahkan menutup bisnisnya

Rendra di koran Kompas hari ini mengatakan Indonesia masih ada harapan di masa depan.

Semoga saja.



Top